5 Juni 2026 oleh Tim Kantor CoE

Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Namun, Pancasila tidak boleh berhenti sekadar menjadi hafalan teks di upacara bendera atau untaian kata di buku sejarah. Ia adalah philosophische grondslag (dasar filosofis) dan elan vital yang harus berdenyut dalam setiap nadi pembangunan bangsa, termasuk di dunia pendidikan tinggi.

Di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), semangat membumikan Pancasila ini mewujud secara nyata melalui terobosan monumental Center of Excellence (CoE). Lebih dari sekedar program akademik, CoE UMM adalah manifestasi konkret dari nilai-nilai luhur Pancasila yang diterjemahkan ke dalam aksi, inovasi, dan solusi bagi masa depan Indonesia.

  1. Sinergi Kemanusiaan dan Persatuan (Sila ke-2 dan ke-3)

Pancasila mengamanatkan pentingnya kemanusiaan yang adil dan beradab serta persatuan. CoE UMM menerjemahkan hal ini dengan meruntuhkan sekat-sekat eksklusivitas akademik. Melalui kelas-kelas profesional seperti CoE Unggas, CoE English for Hospitality, CoE Energi Terbarukan, hingga CoE Asisten Advokat, UMM membuka pintu kolaborasi yang luas antara kampus, dunia industri (DUDI), dan masyarakat.

Di sini, mahasiswa dari berbagai latar belakang bersatu, bekerja sama dengan para praktisi industri untuk memecahkan masalah riil di lapangan. Persatuan antara akademisi dan praktisi ini menciptakan ekosistem belajar yang memanusiakan mahasiswa—menyiapkan mereka bukan hanya sebagai pemegang ijazah, melainkan sebagai manusia seutuhnya yang siap berdampak bagi sesama.

  1. Gotong Royong sebagai Arsitektur Program (Sila ke-4)

Intisari dari Pancasila, seperti yang pernah disampaikan oleh Bung Karno, adalah Gotong Royong. Nilai inilah yang menjadi bahan bakar utama penggerak CoE UMM.

Kurikulum CoE tidak dirancang secara sepihak oleh dosen di menara gading. Sebaliknya, kurikulum disusun bersama secara musyawarah mufakat dengan pihak industri terkemuka. Gotong royong lintas sektor ini memastikan bahwa apa yang dipelajari mahasiswa di kelas adalah apa yang benar-benar dibutuhkan oleh bangsa saat ini. Gotong royong ini juga melahirkan efisiensi, dimana transfer pengetahuan dan teknologi terjadi secara organik demi kemajuan bersama.

  1. Mewujudkan Keadilan Sosial Melalui Kemandirian Ekonomi (Sila ke-5)

Tantangan terbesar bangsa hari ini adalah ketimpangan ekonomi dan angka pengangguran terdidik. Sila ke-5, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, menuntut adanya akses yang adil terhadap kesejahteraan dan pekerjaan yang layak.

CoE UMM hadir sebagai jembatan emas (golden bridge) untuk menjawab tantangan tersebut. Dengan melahirkan lulusan yang memiliki keahlian spesifik dan langsung terserap industri—atau bahkan menjadi wirausahawan baru—CoE secara langsung memutus mata rantai pengangguran. Ketika pemuda di berbagai daerah memiliki kemandirian ekonomi berkat keahlian dari CoE, maka keadilan sosial dan pemerataan kesejahteraan bukan lagi sekadar impian.

“CoE UMM bukan hanya tentang mencetak tenaga kerja siap pakai, melainkan tentang melahirkan generasi berkarakter Pancasila yang siap memimpin kemandirian pangan, energi, dan teknologi di masa depan.”

Berkhidmat untuk Bangsa

Penulis : Rifdah Faizati Nabihah